Sabtu, 04 Desember 2010

Kutipan Cerita.. :D

Entah kenapa, sebuah cerpen yang pernah dimuat di sebuah majalah anak-anak ‘Bobo’ terus saja mondar-mandir di pikiranku. Mungkin saking tersentuhnya sama cerita itu, dan sedikit banyak juga berkenaan dengan kehidupanku sendiri belakangan ini.

Ceritanya tentang sebuah persahabatan, kisah 4 orang sahabat, anak SD yang sebenarnya belum paham benar apa makna persahabatan itu.
Inti ceritanya kira-kira begini (*masih ingat betul, padahal udah kira 12 tahun lalu ku baca).

Pemeran : sebut saja mereka Rini, Nindi, Yesi dan Dina.

Saat itu, Rini mendapatkan oleh-oleh dari tantenya yang baru saja pulang dari Singapore. Dua buah kaus putih berlambangkan Singa, icon dari negara tersebut. Rini bingung, karena dia memiliki 3 sahabat, sedangkan kaus itu hanya ada 2 buah. Jika kaus yang satunya diberikan pada Nindi, Yesi dan Dina pasti akan cemburu, begitu juga sebaliknya. Rini jadi bingung, kepada siapa seharusnya satu kaus itu diberikannya.

‘Berikan saja pada sahabat yang kau anggap paling dekat denganmu’, saran tante Rini.

Tentu saja tidak mungkin, karena ketiga sahabatnya sangat dekat dengannya. Sehingga muncullah ide brilian dari sang tante, ‘Bagaimana kalau kaus itu kau berikan pada seorang sahabat, yang benar-benar sahabat, yang selalu ada disaat kamu susah maupun senang!’

That’s the point!

Siapakah sahabat dalam suka? Tentu saja Nindi, Yesi dan Dina selalu ada disaat Rini bahagia.
Lalu, siapakah yang akan selalu ada disaat duka dan kesusahan? Rini belum tau.

Rini : ‘Nindi, hari Sabtu nanti kamu ada acara gak?’
Nindi : ‘Maaf, aku harus pergi ke dokter gigi.’
Rini : ‘Aku butuh bantuan, bisakah kau membantuku membersihkan gudang belakang rumah?’
Nindi : ‘Maaf Rin, sepertinya tidak bisa.’
Rini : ‘Ok, tidak apa-apa.’

Rini terdiam. Nindi tak bisa membantunya kali ini.
Ditekannya nomor telepon rumah Yesi, berharap Yesi bisa membantunya.
Diulanginya pertanyaan yang sama, namun Yesi pun tak bisa membantu karena akan bepergian dengan keluarganya.

Rini semakin sedih, ternyata mencari teman saat kita kesusahan itu tidak mudah.
Tapi dia masih punya sedikit harapan, karna Dina pasti bersedia membantunya.
Dihubunginya Dina, namun Dina pun tak bisa berbuat banyak, karena Dina harus menemani mamanya berbelanja kebutuhan harian mereka.

Rini termenung memandangi dua buah kaus yang kini digenggamnya erat-erat. Kini dia sadar, tak ada sahabat yang benar-benar bisa diandalkan dalam segala suasana.
Tak ada.
Air mata menetes di pipinya yang putih.

Hari terus berganti, tibalah hari Sabtu yang seharusnya menjadi hari penentuan siapakah teman yang bisa membantunya?
Sudah pukul 3 sore, namun tanda-tanda kehadiran teman-temannya tak juga ada.
Ya, dia tau, tak seharusnya dia menunggu karena teman-temannya sudah punya acara masing-masing. Tapi entah kenapa, dia masih juga berharap.

‘tok..tok..tok..’, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
‘tunggu sebentar’, sahut Rini.
‘Dina??’, Rini kaget melihat Dina ada di depan pintunya.
‘Iya, maaf yah Rin aku datangnya telat, tadi mama tidak bisa mengantarkanku,jadi aku harus naik sepeda sendiri’,jawab Dina.

Mereka berdua melangkah ke ruang tamu. Dina membuka tasnya, mengeluarkan sapu tangan, melilitkannya di wajahnya, dan kemudian memasang sarung tangan di kedua tangannya yang mungil.

‘Ayo kita bersihkan gudangnya.’, kata Dina dengan semangat
‘Bukankah kau harus menemani ibumu berbelanja?’, tanya Rini masih dengan ekspresi bingung.
‘Ah, tak apa. Ibu bisa pergi dengan mbak Tita.’, jawab Dina.

Rini langsung memeluk sahabatnya itu, ternyata Dina adalah sahabat yang bisa diandalkan dalam keadaan susah.

‘Sebenarnya tak ada gudang yang perlu dibersihkan’, kata Rini.
‘Maksudnya?’, tanya Dina.
‘Tanteku memberikanku oleh-oleh dua buah kaus,tapi aku bingung kepada siapa harus ku berikan kaus yang satunya lagi. Karena itulah aku menghubungi kalian bertiga, siapakah sahabat yang mau membantuku, maka dialah yang berhak mendapatkan kaus itu. Dan sekarang, kaus itu akan jadi milikmu.’

Dan keduanya berpelukan, bahagia karena menemukan sahabat yang semoga selalu ada dalam segala suasana, baik suka maupun duka.

*****

Aku tersentuh.
Ide cerita ini sungguh sangat sederhana, namun entah kenapa, sangat mengena dihatiku.
Siapakah sahabat dalam dukaku?
Siapakah sahabat yang ada saat aku dalam kesusahan?
Siapakah sahabat yang akan datang membantuku saat ku butuhkan?

‘Saat kau senang, teman-temanmu mengenalmu. Namun saat kamu susah, kamu yang mengenal teman-temanmu.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar