Kamis, 14 Oktober 2010

Hari yang melelahkan.. Udah sakit tertimpa durian..

Lelah.. Dan Lelah..
Lelah.. Dan Lelah..
Dalam keadaan sakit kenapa..

Lagi - lagi harus kehilangan...

Lagi - lagi dengan tema yang sama...

Lagi - lagi harus musikku...

Hari ini adalah hari paling melelahkan dalam hidup. Sungguh aku lelah. kupertahankan diriku dengan musik, tapi musik meninggalkanku. Dan lagi - lagi. Seperti pulpen tak bertinta kosong tak berharga. Aku berpikir? kenapa harus musik? kenapa harus musik yang menyakitiku? Awalnya aku percaya dan aku terbuang. Dan aku pun mendendam. Jujur dendam semua hatiku. Aku ingin rasanya memukul. Ingin rasanya membakar. Atau pun mengeluarkan semua kata - kata dalam bathinku ini. Dan aku hanya diam dan mendendam. mencetuskan segala ambisi. Bahwa aku bisa berjalan sendiri. Aku akan membuktikannya.

Waktu terus berlalu. Dendam tak pernah hilang. Dendam itu terus membakar hatiku. Membakar kian pekat. Terus kuberlatih alat musikku. terus dan terus. Dan kusadari,, AKU SAKIT. Ya, aku sakit. Memang ini bukanlah hal yang dapat bisa kita percaya namun ini nyata. Ketika seseorang memcoba melawan takdirnya dan ingin menguasainya. Namun kalau memang takdir mengatakan kau tak akan bisa. Maka kau tak akan bisa. Ya,, sakit mungkin bisa kau sebut itu dengan sakit badanmu. Ketika tangan dan kaki ingin bisa menguasainya dan mereka tak mampu maka yang akan terjadi adalah SAKIT. Sakit di tanganmu, kakimu, badanmu dan otakmu. Pusing dan kabur pandanganmu. Itu adalah hal yang kini kudapatkan. Dan ku memikirkan lagi? benar, aku telah dibuang olehnya. Aku mencintai musikku tapi musik itu pula yang membuangku. Musik tak memilihku.

Dan jujur. aku pasrah. Gitarku kuabaikan. Bahkan aku rela meninggalkan gitarku itu dirumah temanku. Yah, aku mencintai musikku namun jujur aku sakit karenanya. Rasanya semua tak dapat aku percaya.

Aku pun melupakannya. Aku membuat kelompok bermusik pun aku tak sungguh - sungguh niat menjalankannya. Hanya kata "Terserah kalian saja, aku akan ikuti".

Yah,, kujalani bermusikku yang biasa saja. Hanya ikut kalau ada yang mengajak atau hanya bermain kalau hanya sedang ingin? Yang kulakukan hanya mendengarkan lagu dan itu sudah cukup untuk memuaskan hatiku.

Bermusik dengan sungguh - sungguh? Percuma saja. itu hanya bagi orang yang mendapatkan kesempatan dan orang yang memang sudah ditakdirkan untuk bermusik. Yah,, musikku hanya sebatas itu saja.

Band maha sekolahku. Hehm, aku mulai menikmatinya. aku seperti memulai langkah baru. kutemukan lagi langkah musikku. Jujur semua memang suka dengan musik. Cuman memang mereka awam. Pengenalan musikku dengan mereka bisa dibilang amat jauh. tapi mereka menunjukkan solidaritas mereka. aku bangga dan aku senang. walau disini aku harus berperan lebih sangat yah, dengan menopang sakitku. Walau kutahu batas kemampuanku dan batas tubuhku. Namun semua selesai ketika perpisahan sekolah. Hanya sampai situ.

Namun ternyata bertemu dengan keluarga baru.Yah,, kupikir ini adalah bermusik yang kuinginkan. Dibalik suatu hal terdapat hal lain sebagai penggantinya. Semua dijalani. Dan orang - orang yang bermusik didalamnya sepertiku. Orang yang tidak awam dan berkembang. Yah,, aku senang. Doa atau mungkinku selama ini terkabul.

Waktu terus berjalan.gitarisnya pergi keluar kota. tapi itu tak mengurungkan niat kami tuk berkarya. Yah,, aku sangat menikmatinya. Namun sekarang hal itu terjadi. Hehm.. Hehm.. Jujur aku bingung mao menceritakannya. Jujur aku sudah tak punya hal yang bisa kulakukan? Kurasa hal-hal ini menjadikanku agar "Lebih baik pasrah saja"...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar